17 November 2007

Tajuk Rencana : Apa Sich Pahlawan Itu?

10 Nopember setiap tahunnya diperingati sebagai hari pahlawan. Namun ditahun 2007 ini apakah arti pahlawan sesungguhnya ? Karena toh tetap saja negeri ini masih susah untuk berdiri. Bahkan semakin terpuruk dan ternista dalam pergaulan internasional. Apakah di negeri ini pahlawan itu sudah tidak ada ? Ini kondisi bangsa abad 21 ini.
Pahlawan memang bukan kata sederhana dalam makna dan aplikasi . Menjadi pahlawan tentu bukan untuk sembarangan orang. Mereka yang terpilih saja mampu masuk dalam jajaran itu. Mengapa harus terpilih tentu merek yang mampu berkorban demi bangsa dan tanah airnya. Rela menyerahkan waktu, air mata, keluarga bahkan nyawa. Memang tak seimbang jika kini kita yang menikmati hasil perjuangan itu hanya merayakan hari pahlawan sebatas seremoni saja.
Apa sebenarnya makna dan bagiamana hari pahlawan itu diperingati agar seimbang?. Tak lain jawabnya adalah bukan hanya seremonial namun mengakomodir dan meniru nilai-nilai juang apa yang telah dilakukan mereka demi merah putih adalah makna tertinggi.
Menyimak perjalanan bangsa yang dimulai dari era penjajahan, kemerdekaan , memepertahankan kemerdekaan dan mengisi kemerdekaan adalah suatu dekade yang membutuhkan waktu yang panjang. Ini perjalanan bangsa selama 62 tahun yang dimulai dengan aksi melawan penjahahan. Jadilah RI sebagai bangsa yang berdaulat.
Pahlawan dan pejuang tentu berbeda. Pejuang bisa saja tidak dimasukkan dalam daftar pahlawan. Namun pahlawan sudah pasti menjadi pejuang. Terlepas dari semua istilah itu negeri ini dalam usianya yang ke 62 ini ternyata kekurangan pejuang dan pahlawan yang mempunyai niat dan upaya untuk memerdekaan bangsa ini dari korupsi, kolusi dan nepotisme.
Gawe dan teriak ingat kembali semangat kepahlawanan sudah diteriakkan mahasiswa dalam menumbangkan rezim Soeharto tahun 98 silam. Saat itu harapan akan muncul pahlawan yang akan mampu memperbaiki bangsa ini atas keterpurukan di semua sektor. Istilah reformasi juga berkibar dan berharap istilah itu langgeng dan membawa perubahan yang lebih baik.
Hampir sepuluh tahun terikan itu berlalu namun sepertinya baru saja terjadi. Itu sama artinya teriakan itu tidak dibarengi dengan niat kepahlawanan. Apa yang dilakukan elit politik adalah berebut kekuasaan. Sibuk dengan kursi RI 1 dan sibuk dengan partai mereka. Wakil rakyat yang tinggal dan duduk di DPR secara umum juga meninggalkan pemilihnya saat mencapai angan-angan kursi itu. Wajarkah mereka disebut pahlawan?
Rasa tidak karena pola pikir pahlawan bukan hanya pribadi namun lebih jauh menjadi lilin digelap gulita kendati dirinya akan hancur demi sebuah penerangan. Namun itu adalah kejadian umum skala nasional. Penyakit itu bukan hanya di level atas saja. Namun juga hingga kabupaten dan kota penyakit KKN masih terus berlangsung. Tren mengutamakan kepentingan kelompok terus terjadi sehingga jenis yang terjadi pahlawan kelompok.
Apa sich pahlawan itu ? pelajar dan siswa mengenal nama-nama dan dugaan foto nama-nama pahlawan dan pejuang. Namun apa sebenarnya yang utama adalah apa yang pantas dipetik pelajar dari nama dan warisan perjuangan yang telah mereka lakukan. Banyak mengatakan negara ini dibangun dengan air mata dan cucuran darah. Namun itu cerita tahun 45. Ternyata memang merebut jauh lebih mudah dibanding mempertahankan dan mengisi kemerderkaan. Selamat Hari pahlawan 11 November. (***)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar