17 November 2007

SUKSES TANI : Mengapa Hama Uret Menyerang Tanaman di Silumboyah?

Pada kunjungan pertama Penulis Kolom Sukses Tani Dapers ini Desember tahun lalu serangan uret telah meluluhlantakkan semua tanaman di daerah Silumboyah hingga sekitar KM 10 Arah Tiga Lingga. Ketika penulis menjalani kembali daerah tsb baru-baru ini maka ternyata serangan hama tsb juga masih banyak merusak padi yang ditanam petani.
Petani kebingungan dan bertanya apa penyebab padi menjadi gosong dan bertumbangan hanya karena ditiup angin biasa saja? Penulis yang turun ke lapangan mengamati serangan tersebut disebabkan hama Uret yaitu ulat dari kumbang. Uret hidup dalam tanah dan memakan akar hampir semua tanaman yang ada.
Serangan uret seperti ini sudah umum di Jawa Tengah, khususnya daerah yang mengalami kekeringan panjang seperti Gunung Kidul. Akan tetapi uret yang menyerang tanaman pertanian di Dairi sangat kecil kemungkinannya datang dari daerah lain. Uret sebenarnya sejak dahulu sudah ada di Dairi. Serangga yang tergolong kumbang ini menjadi hama karena terganggunya keseimbangan lingkungan.
Setelah mempelajari kondisi lapangan dan luas serangan yang terjadi maka jawaban yang paling logis adalah pengaruh iklim. Pada saat terjadi kekeringan panjang lebih dari 3 bulan, seperti yang umum di Silumboyah hingga Kec. Tiga Lingga, uret beristirahat dalam tanah. Pada awal musim hujan serangan uret akan sangat terasa menghancurkan semua tanaman yang ada di daerah tsb.
Mengapa Uret Merusak Sejak Hujan Mulai Turun?
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan para pakar dari perguruan maka kami kumpulkan informasi sebagai berikut:
- Telur berasal dari kumbang berwarna putih. Kumbang betina mampu bertelur + 46 butir yang menetas dalam waktu 10-11 hari.
- Uret warna putih kekuningan yang muncul dari telur memakan humus, selanjutnya larva hidup dengan memakan rerumputan dan tanaman yang ditanam pada awal musim hujan. Hidup selama 5-7 bulan di dalam tanah. Pada akhir musim hujan uret beristirahat 40 hari dan berkepompong selama + 2 bulan. Itulah sebabnya serangan uret sangat dirasakan petani yang menanam padi dan jagung pada awal musim hujan.
- Kumbang muncul dari dalam tanah setelah hujan lebat pertama pada musim penghujan dan lahan cukup lembab. Sore hari kumbang muncul lalu kawin. Pemunculan kumbang semakin berkurang pada 2–4 minggu setelah kemunculannya yang pertama. Uret ditanam pada awal musim hujan
- Musuh alami yang telah diketahui adalah tabuhan Campsomeris leefmansi, C. agilis, C. annulata F., C. phalerata F. Disamping itu juga dikenal adanya predator yaitu Asilidae dan burung, dan patogen berupa bakteri, jamur dan virus. Musuh alami jamur yang paling menonjol adalah Metharrhizium anisopliae dan Beauveria bassiana.
Mengapa Uret baru Menyerang Belakangan Ini?
- Permasalahan uret yang terjadi belakangan ini disebabkan rusaknya keseimbangan lingkungan. Musuh alami yang berperan menekan jumlah serangga pada lingkungan asli telah musnah akibat penggunaan pupuk urea yang berlebihan. Jika kita perhatikan pada zak pupuk urea disebutkan mengandung ammonium klorida. Klorida pada urea tersebutlah yang membunuh kedua jenis jamur musuh alami uret tsb diatas.
Bagaimana Mengatasinya?
- Pengaturan bercocok tanam dengan mengganti pupuk Urea menjadi ZA pada lahan kering.
- Dilakukan pengolahan tanah dengan baik sehingga uret tidak berkembang. Petani sebaiknya membunuh uret yang dijumpai pada saat pengolahan tanah.
- Kumbang kawin pada awal musim hujan dan tertarik cahaya lampu. Oleh sebab itu petani agar menghidupkan lampu diluar rumah dan meletakkan minyak tanah dibawahnya. Kumbang dewasa yang datang akan terbunuh jika terkena minyak tanah tersebut.
- Aplikasi Metharrhizium anisopliae atau Beauveria bassiana sebanyak 4 hingga 5 kg/ha telah cukup menekan uret sehingga tidak menjadi hama yang ditakutkan lagi.
- Penggunaan ampua/rampusan (Bhs. Indonesia babadotan) juga bermanfaat menekan karena mengandung insektisida alami.
Penggunaan M. anisopliae dari BP2TP Sumut sebenarnya telah dikirimkan kepada Kades Silumboyah yang bermarga Siburian. Pengendalian hama yang dilakukan sendiri-sendiri tidak akan mampu mengurangi jumlah uret secara nyata. Untuk itu tindakan kebersamaan petani dalam kelompoknyalah yang bisa mengatasi hama yang menyerang hamparan pertanian seperti di Silumboyah tsb.

Brosur topik tertentu tersedia untuk Petani/Pembaca Dairi Pers di Sekretariat Redaksi Dairi Pers.
Tim Sukses Tani Dairi Pers akan berusaha menjawab pertanyaan bidang pertanian dan pedesaan yang perlu disajikan pada kolom ini atau konsultasi langsung. Silahkan hubungi langsung atau SMS-kan pertanyaan (tolong sebut nama dan alamat) ke ponsel kami: 0813 6230 1475. Atau hubungan internet ke blog ini.
Semoga SUKSES BerTANI.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar