25 November 2007

Petani Kol Di Kecamatan Sumbul Terkecoh

Dolok Tolong-Dairi Pers: Kebimbangan kembali mengombang-ambingkan petani di dusun Dolok Tolong ke Sumbul Pegagan khususnya petani Hortikultura jenis tanaman kol atau kubis. Pasalnya di daerah tersebut sewaktu panen raya harga kol berkisar Rp. 100,- s/d Rp. 150,-/Kg itupun tidak ada toke yang mengambil hasil bumi yang mirip piala dunia tersebut.
Tapi kini panen sudah selesai, harganya sudah melangit yakni Rp. 1000/Kg malah tokenya sudah bingung cari sana-sini begitu keluh kesah Kepala desa Dolok Tolong kepada Dairi Pers, Rabu (14/11) di kantor Camat Sumbul. “Kami jadi heran bagaimana ini, tambahnya kami jadi seperti bermain Aleb cendong saja atau memang sudah ada mafianya ya, kami jadi bingung” ujarnya dengan raut muka bingung juga. Rumah ya terpaksa pakai jurus lari saja padahal itu bukan jalan keluarnya cetusnya sambil tertawa paksaan. Dari pantauan Dairi Pers memang begitulah nasib petani kol salah satu contohnya di desa Dolok Tolong adalah segelintir petani yang akhirnya begitu-begitu saja jadi bulan-bulanan pihak tengkulak di daerah ini.
Dan yang paling lucu bila harga murah pinahan lobu (babi) saja tidak akan mau makan jenis sayur yang satu ini” ucap br.Simbolon di tempat terpisah kepada Dairi Pers. Makanya ada istilah di daerah ini bila kolnya ketawa (pecah) maka yang punya akan menangis dan yang paling lucu tapi sedih pihak yang berkompeten di daerah ini mulai dari dinasnya, DPR, bahkan bupatinya tidak pernah mau perduli hal seperti ini. Hanya sibuk mengurus proyek barangkali, ujarnya br Simbolon sinis.
Situasi di lapangan memang sangat memprihatinkan ditambah lagi beban para petani yang memang sengaja meminjam modal ke pihak Bank bahkan ada yang pinjam modal ke rentenir yang bunganya bisa mencapai 10%. “ kami heran hal seperti ini sudah sering kalian buat berita tapi tidak pernah ada respon, yang nggak masuknya Koran kalian ini ke kantor bapak-bapak kita ini di Sidikalang? Ujar br Simbolon mulai emosi.
Jadi tahun-tahun depan kami akan bawa saja kol-kol ini ke Dinas Pertanian, kantor DPR, dan kantor Bupati juga ke kantor Perindagkop biar mereka puas. Mudah-mudahan situasi diatas segera mendapat respon dari pihak-pihak terkait sebelum hal itu terjadi. Hendaknya aspirasi masyarakat kalangan bawah ini mendapat perhatian segera jangan hanya ketika kampanye saja mereka mau turun kelapangan tetapi setelah duduk manis sudah lupa.(ATS/TH)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar