07 Oktober 2007

Kakak Beradik Lumpuh Yang Dikucilkan

L. Pangaroan-Dairi Pers: menjadi penderita lumpuh memang bukanlah impian yang namanya manusia. Namun jika cobaan itu datang tak ada kata lain kecuali harus menjalani cobaan itu. Manusia yang ada disekitar seharusnya berbagi hingga mereka yang diuji dengan cacat lumpuh itu tidak putus asa.
Namun agaknya cerita saling berbagai ini tak pernah dirasakan kakak beradik Sahat Lumbangaol dan Sabar lumbangaol . Keduanya penduduk Desa Lae Pangaroan, Dairi. Sumihar Sinaga sang ibu malang ini terpaksa menjalani cobaan itu . Kedua anaknya menderita lumpuh Sabar lumbangaol menderita lumpuh sejak umur 3 tahun . Beban semakin berat karena suami tercinta juga dipanggil Sang Khalik saat kedua anak ini lumpuh. Tidak mudah bagi ibu seperti itu menghadapi tantangan hidup yang semakin keras saat ini .
Sebelumnya Sahat lumbangaol membantu sang ibunda Sumihar Sinaga mencari nafkah kehidupan sebagai buruh tani di ladang para tetangga. Namun kembali Sahat juga harus mengalami hal yang sama dengan adiknya yakni lumpuh pada usia 20 tahun. Sudah dua tahun Sahat tergolek dan tak bisa bergerak dari kamarnya. Tinggal kini Sang ibu harus menjalani beban hidup yang keras menjaga kedua putranya yang lumpuh serta mencari nafkah..
Siang itu Wartawan Dairi Pers Binsar Sinaga bertemu dengan ibu serta dua anaknya pada gubuk yang sederhana itu di Lae pangaroan. Suatu pemandangan yang sangat menyedihkan makan siang keluarga ini hanya dengan singkong. Memang tak biasa dilidah namun untuk sekedar menghormati terpaksa juga menikmarti hidangan ibu tersebut.
Pemandagan yang sangat menyedihkan itu kembali terlihat dari wajah-wajah mereka yang terkucilkan itu. Saat Dairi Pers mempertanyakan apa ada pihak yang membantu mereka keluarga ini menyebut mereka merasa dikucilkan. Kehidupan yang keras yang mereka alami semakin pahit karena tak ada pihak yang ingin berbagai. Dulu kami menerima Raskin dan dana subsidi BBM. Namun kini dana itu sudah tidak ada. Kami tak tahu mau bagaimana lagi. Hanya upaya kerja keras dan mengarungi hidup menunggu ajal menjemput, Ujar Ibu malang ini sedih.
Warga setempat agaknya hanya silau melihat jika ada tamu keluarga malang ini yang berkunjung .Jika berada di depan rumahnya seakan menyapa walau sebenarnya ingin mengetahui siapa yang berada di rumah itu. Usai tegur sapa yang lebih mirip basa basi itu kemudian berlalu. Sudah biasa disini kalau ada tamu warga bertanya. Namun tak satupun dari mereka mengerti dan membantu kami, ujar penderita lumpuh tersebut.
Dunia memang sebuah panggung sandiwara. Dimana setiap orang punya peran yang telah ditulis dalam scenario oleh Sang Khalik. Namun sebuah peran yang menyakitkan tentu tak satupun orang mengidamkannya. Sahat dan Sabar Lumbangaol dua kakak beradik yang lumpuh ini harus menjalani cobaan. Pada usia yang sudah lumayan dewasa itu mereka tidak mengetahui apa yang disebut dengan cinta. Perasaan yang biasa muncul pada usia seperti itu harus mereka kekang. Perasaan cinta yang kerap hinggap pada hati kala melihat wajah manis melintas dari depan rumah harus mereka tepis. Tak percaya diri. Perasaan minder semakin mengental hingg akhirnya membatu . Mereka memang tidak normal. Kini bukan hanya kaki dua jejaka ini saja yang lumpuh. Namun juga perasaannya yang sudah lumpuh.
Ini adalah potret perjalanan anak manusia dalam babak air mata . Namun suatu fakta mereka juga manusia yang pantas mendapat perhatian dari mereka yang punya rezeki lebih. Saatnya kita mengakui kita masih lebih bernasib baik. Wajar kita memandang dan membantu penderita seperti ini. Mereka juga tak memesan peran lumpuh dalam kehidupan ini. (BS)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar