10 Februari 2008

Pemilik Sawah Lae Nuaha Harapkan Bantuan Pemkab Dairi

Sidikalang-Dairi Pers : Pasca bencana alam banjir yang merusak areal persawahan sepanjang sungai Lae Nuaha, Sidikalang, Dairi 7 tahun silam membuat areal persawahan daerah ini ditinggalkan. Longsor sepanjang jalur lae nuaha yang berakibat arus sungai terhalang dan masuk ke areal persawahan semakin menyulitkan pemilik lahan daerah ini mengolah kembali lahannya. Belum lagi sisa banjir yang luar biasa itu membuat petani tidak mampu mengolah lahan daerah ini. Pemilik lahan daerah ini meminta pemkab Dairi bisa membantu warga untuk penyediaan traktor membuka kembali lahan perswahan yang luasnya puluhan hektar itu.
Pantauan Dairi Pers lahan yang dulunya areal persawahan itu kini ditinggalkan dan menghutan. Banjir besar yang melanda areal ini membuat pemilik lahan tidak mampu menggunakan lahan ini lagi. Akhirnya lahan ini ditinggalkan warga setempat. Hanya beberapa lokasi persawahan dulunya yang juga diupayakan pemiliknya kembali menjadi areal pertanian. Namun sudah berubah fungsi menjadi lahan darat. Material banjir sudah berpengaruh pada ketinggian tanah areal persawaahan. Sedang sungai sudah berada jauh dibawah permukaan sawah. Hal tersebut membuat lahan hanya bisa digunakan sebagai lahan darat.
Sementara itu pemkab Dairi melalui dinas PU Dairi telah mengalokasikan dana hingga mencapai miliaran rupiah untuk perbaikan saluran sungai daerah ini. Namun kendati saluran air yang ada telah normal kembali namun pemilik lahan tetap saja tidak menggunakan lahan itu lagi. Sawah yang memang mudah ditumbuhi lalang terus bertambah hingga akhirnya kondisi persawahan menjadi menghutan.
Berberapa warga pemilik lahan kepada Dairi Pers menyebut-kan harapan semoga pemkab Dairi dapat membantu mereka dalam membuka kembali lokasi itu. Karena menurut mereka semasa lokasi ini masih digunakan sebagai arel penanaman padi hasil yang dapat dipanen cukup untuk kebutuhan selama 6 bulan di keluaraga.
M. Sianturi salah seorang pemilik lahan menyebut sekitar 8 tahun lokasi itu tak digunakan membuatnya susah diolah kembali .Pengolahannya tak bisa lagi dengan tenaga masnusia saja namun harus menggunakan alat berat. Soal biaya operasional untuk pengerjaan alat berat itu menurut-nya semua warga pemilik lahan akan dengan suka rela memberikan bantuan. (R.07)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar